java
About Me
Blogger templates
Powered by Blogger.
Popular Posts
-
"BS.MELATI" berasal dari JAWA BARAT Berawal dari seorang Guru yang mempunyai murid terbaik sebanyak 7 orang dan kemudian kar...
-
MISTERI DARI SMA Wajahnya cantik mendebarkan cowok mana pun kepingin jadi kekasih nya .nama nya carrla ,dia puny...
-
Tips Cara Merayu dan Memikat Cewek Cantik ----------------------------------------------------- Anda selaku pria harus Pede, ditinggal...
-
Pada tgl. 6 Februari 2008 lalu, Misteri mendapat undangan seorang rekan bernama Malau. Beliau mengajak Misteri untuk mengikuti ritual di...
-
by revall
-
16 LangkahMenginstall Windows 7 Posted on September 29, 2011 by NirwanSalim AlatdanBahan yang dibutuhkan: SediakanKomputer (PC) atau Lap...
-
1. PENGERTIAN SENI TARI Seni tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan berbentu...
Pages
menurut anda blog saya ini
majalah
Friday, 22 March 2013
Tuesday, 19 February 2013
asal usul nyi roro kidul
Pada
tgl. 6 Februari 2008 lalu, Misteri mendapat undangan seorang rekan
bernama Malau. Beliau mengajak Misteri untuk mengikuti ritual di
Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Sebuah ritual untuk mengungkap asal usul
Kanjeng Ratu Kidul. Tentu saja tawaran itu Misteri sambut hangat.
Terlebih ketika dia mengatakan bahwa Kanjeng Ratu Kidul berasal dari
Tanah Batak.
Sejauh
ini terdapat berbagai pendapat seputar asal usul sosok Kanjeng Ratu
Kidul. Ada yang mengatakan, Kanjeng Ratu Kidul sesungguhnya adalah Ratu
Bilqis, isteri Nabi Sulaiman Alaihissalam. Dikisahkan, setelah wafatnya
Nabi Sulaiman as., Ratu Bilqis mengasingkan dirinya ke suatu negeri. Di
sana beliau bertapa hingga moksa atau ngahyang.
Legenda
lain seputar Kanjeng Ratu Kidul adalah Dewi Nawang Wulan, sosok
bidadari yang pernah diperisteri Jaka Tarub. Sedangkan kisah lain tidak
secara spesifik menyebutkan asal Kanjeng Ratu Kidul, kecuali dia puteri
seorang raja di Tanah Jawa.
Sinyalemen
Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak bukannya tanpa alasan. Isu
ini pertama kali dibicarakan tahun 1985, ketika dalam suatu acara adat
Batak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), beberapa orang mengangkat
masalah ini. Tetapi rupanya tidak terlalu mendapat respon yang hadir.
Isu pun tenggelam dengan sendirinya.
Ketika
Misteri membuka internet, hanya terdapat satu situs yang menyinggung
masalah ini. Itupun hanya dalam beberapa baris kalimat saja. Demikian
kutipannya:
“Ini
dia cerita tentang Ratu Laut Selatan yang dipercaya sebagian orang
sebagai Biding Laut, saudara dari Saribu Raja yang notabene adalah
keturunan Raja Batak.…tapi baca dulu kisahnya ya… siapa tau Nyi Roro
Kidul emang keturunan Raja Batak”. (23 desember 2004, http://mappa.blogspot.com). Hanya sekilas saja kalimat yang menyinggung Kanjeng Ratu Kidul sebagai orang Batak.
Padahal,
sebagaimana diungkapkan Silalahi, di daerah Samosir ada seorang wanita
yang kerap kali kemasukan roh Kanjeng Ratu Kidul. Wanita bernama Boru
Tumorang ini sering mengaku sebagai Kanjeng Ratu Kidul ketika sedang trance. Itulah sebabnya, Boru Tumorang sengaja didatangkan ke Jawa untuk mengikuti ritual menguak asal usul Kanjeng Ratu Kidul.
LEGENDA BIDING LAUT
Sebelum
melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Misteri menyempatkan
diri berbincang-bincang dengan Silalahi (40 thn), spiritualis yang akan
memimpin ritual tersebut.
“Legenda
asal usul Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak ini tidak lepas
dari kisah Raja-raja Batak,” demikian Silalahi memulai ceritanya.
Dikisahkan,
perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang mempunyai dua
orang putra. Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan kedua diberi
nama Raja Isumbaon.
Putra
sulungnya, yakni Guru Tatea Bulan memiliki 11 anak (5 putera dan 6
puteri). Kelima putera bernama: Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana,
Sagala Raja dan Lau Raja. Sedangkan keenam puteri bernama: Biding Laut,
Siboru Pareme, Paronnas, Nan Tinjo, Bulan dan Si Bunga Pandan.
Putri
tertua yakni Biding Laut memiliki kecantikan melebihi adik perempuan
lainnya. Dia juga memiliki watak yang ramah dan santun kepada
orangtuanya. Karena itu, Biding Laut tergolong anak yang paling
disayangi kedua orangtuanya.
Namun,
kedekatan orangtua terhadap Biding Laut ini menimbulkan kecemburuan
saudara-saudaranya yang lain. Mereka lalu bersepakat untuk menyingkirkan
Biding Laut.
Suatu
ketika, saudara-saudaranya menghadap ayahnya untuk mengajak Biding Laut
jalan-jalan ke tepi pantai Sibolga. Permintaan itu sebenarnya ditolak
Guru Tatea Bulan, mengingat Biding Laut adalah puteri kesayangannya.
Tapi saudara-saudaranya itu mendesak terus keinginannya, sehingga sang
ayah pun akhirnya tidak dapat menolaknya.
Pada
suatu hari, Biding Laut diajak saudara-saudaranya berjalan-jalan ke
daerah Sibolga. Dari tepi pantai Sibolga, mereka lalu menggunakan 2 buah
perahu menuju ke sebuah pulau kecil bernama Pulau Marsala, dekat Pulau
Nias.
Tiba
di Pulau Marsala, mereka berjalan-jalan sambil menikmati keindahan
pulau yang tidak berpenghuni tersebut. Sampai saat itu, Biding Laut
tidak mengetahui niat tersembunyi saudara-saudaranya yang hendak
mencelakakannya. Biding Laut hanya mengikuti saja kemauan
saudara-saudaranya berjalan semakin menjauh dari pantai.
Menjelang tengah hari, Biding Laut merasa lelah hingga dia pun beristirahat dan tertidur. Dia sama sekali tidak menduga
ketika dirinya sedang lengah, kesempatan itu lalu dimanfaatkan
saudara-saudaranya meninggalkan Biding laut sendirian di pulau itu.
Di
pantai, saudara-saudara Biding Laut sudah siap menggunakan 2 buah
perahu untuk kembali ke Sibolga. Tetapi salah seorang saudaranya
mengusulkan agar sebuah perahu ditinggalkan saja. Dia khawatir kalau
kedua perahu itu tiba di Sibolga akan menimbulkan kecurigaan. Lebih baik
satu saja yang dibawa, sehingga apabila ada yang menanyakan dikatakan
sebuah perahunya tenggelam dengan memakan korban Biding Laut.
Tapi apa yang direncanakan saudara-saudaranya itu bukanlah menjadi kenyataan, karena takdir menentukan lain.
BIDING LAUT DI TANAH JAWA
Ketika terbangun
dari tidurnya, Biding Laut terkejut mendapati dirinya sendirian di
Pulau Marsala. Dia pun berlari menuju pantai mencoba menemui
saudara-saudaranya. Tetapi tidak ada yang dilihatnya, kecuali sebuah
perahu.
Biding
laut tidak mengerti mengapa dirinya ditinggalkan seorang diri. Tetapi
dia pun tidak berpikiran saudara-saudaranya berusaha mencelakakannya.
Tanpa pikir panjang, dia langsung menaiki perahu itu dan mengayuhnya
menuju pantai Sibolga.
Tetapi
ombak besar tidak pernah membawa Biding Laut ke tanah kelahirannya.
Selama beberapa hari perahunya terombang-ombang di pantai barat
Sumatera. Entah sudah berapa kali dia pingsan karena kelaparan dan udara
terik. Penderitaannya berakhir ketika perahunya terdampar di Tanah
Jawa, sekitar daerah Banten.
Seorang
nelayan yang kebetulan melihatnya kemudian menolong Biding Laut. Di
rumah barunya itu, Biding Laut mendapat perawatan yang baik. Biding Laut
merasa bahagia berada bersama keluarga barunya itu. Dia mendapat
perlakuan yang sewajarnya. Dalam sekejap, keberadaannya di desa itu
menjadi buah bibir masyarakat, terutama karena pesona kecantikannya.
Dikisahkan,
pada suatu ketika daerah itu kedatangan seorang raja dari wilayah Jawa
Timur. Ketika sedang beristirahat dalam perjalanannya, lewatlah seorang
gadis cantik yang sangat jelita bak bidadari dari kayangan dan menarik
perhatian Sang Raja. Karena tertariknya, Sang Raja mencari tahu sosok
jelita itu yang ternyata Biding Laut. Terpesona kecantikan Biding Laut,
sang raja pun meminangnya.
Biding Laut tidak menolak menolak pinangan itu, hingga keduanya pun menikah. Selanjutnya Biding Laut dibawanya serta ke sebuah kerajaan di Jawa Timur.
TENGGELAM DI LAUT SELATAN
Biding
Laut hidup berbahagia bersama suaminya yang menjadi raja. Tetapi
kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Terjadi intrik di dalam istana
yang menuduh Biding Laut berselingkuh dengan pegawai kerajaan. Hukum
kerajaan pun ditetapkan, Biding Laut harus dihukum mati.
Keadaan
ini menimbulkan kegalauan Sang Raja. Dia tidak ingin isteri yang sangat
dicintainya itu di hukum mati, sementara hukum harus ditegakkan. Dalam
situasi ini, dia lalu mengatur siasat untuk mengirim kembali Biding Laut
ke Banten melalui lautan.
Menggunakan
perahu, Biding Laut dan beberapa pengawal raja berangkat menuju Banten.
Mereka menyusuri Samudera Hindia atau yang dikenal dengan Laut Selatan.
Namun
malang nasib mereka. Dalam perjalanan itu, perahu mereka tenggelam
diterjang badai. Biding Laut dan beberapa pengawalnya tenggelam di Laut
Selatan.
Demikianlah sekelumit legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai sosok asli Kanjeng Ratu Kidul.
“Dalam
legenda raja-raja Batak, sosok Biding Laut memang masih misterius
keberadaannya, Sedangkan anak-anak Guru Tatea Bulan yang lain tercantum
dalam legenda,” kata Silalahi dengan mimik serius.
Sementara
itu, Boru Tumorang (45 thn) mengaku sudah lama dirinya sering kemasukan
roh Kanjeng Ratu Kidul. Terutama terjadi saat kedatangan tamu yang
minta tolong dirinya untuk melakukan pengobatan. Tetapi Boru Tumorang
tidak mengerti mengapa raganya yang dipilih Kanjeng Ratu Kidul. Semuanya
terjadi diluar keinginannya.
Kanjeng Ratu Laut Kidul Berasal dari Tanah Batak (Bagian 2)
RITUAL PEMANGGILAN KANJENG RATU KIDUL
Untuk
membuktikan keberadaan sosok legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai
Kanjeng Ratu Kidul, Misteri bersama 8 orang rekan yang semuanya bersuku
Batak sengaja datang ke Pelabuhan Ratu untuk melakukan ritual
pemanggilan roh Kanjeng Ratu Kidul.
Lokasi
pertama adalah makam Guru Kunci Batu Kendit Abah Empar. Lokasi ini
cukup dikenal masyarakat, terutama yang hendak melakukan ritual
pemanggilan Kanjeng Ratu Kidul. Konon, di tempat ini Kanjeng Ratu Kidul
memang biasa muncul.
Sebelum melakukan ritual, sebagaimana biasanya beberapa ubo rampe telah disiapkan, diantaranya: jeruk, jeruk purut, apel, daun sirih, pisang raja, anggur, minyak jin, kembang sepatu, tepung beras, kelapa dan gula (itaguruguru-bahasa Batak).
Sekitar
pukul 22.30 malam, dimulailah acara ritual pemanggilan roh Kanjeng Ratu
Kidul. Ketika itu, Silalahi dan Boru Tumorang tampak membaca
mantera-mantera. Beberapa saat kemudian, Silalahi mulai
menampakkan perubahan ekspresi wajah. Sosok gaib yang dipanggil
tampaknya telah merasuk ke dalam raganya. Belakangan Misteri mengetahui,
sosok gaib itu adalah roh Raja Batak.
Sementara
dalam waktu hampir bersamaan, Boru Tumorang pun memperlihatkan ekspresi
kesurupan. Tiba-tiba tubuhnya tersungkur lalu merangkak bergeser
posisi. Setelah itu, dia kembali duduk dengan wajah tertunduk dan mata
terpejam. Roh Kanjeng Ratu Kidul telah merasuk ke dalam raga wanita asal
Samosir ini.
Terjadilah
dialog dalam bahasa Batak antara Silalahi (yang sudah kemasukan roh
Raja Batak) dengan Boru Tumorang dan beberapa orang yang hadir.
Sepanjang dialog itu, ekspresi wajah Boru Tumorang berubah-ubah.
Terkadang tersenyum, tertawa, menangis dan melantunkan lagu berisi
sejumlah nasehat.
Kalimat pertama yang diucapkan Kanjeng Ratu Kidul adalah
”Kenapa
baru sekarang kalian datang untuk menemui saya? Padahal saya sudah lama
berada di sini,”ujar Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang.
Ketika
salah seorang yang hadir bertanya tentang Biding Laut, seketika Kanjeng
Ratu Kidul menukas,” Ya, sayalah Biding Laut. Terserah apakah kalian
akan percaya atau tidak.”
Selanjutnya
dialog meluncur begitu saja. Beberapa dialog yang Misteri catat
diantaranya saat Boru Tumorang menangis sambil berkata:
“Boasa
gudang hamo nalupa tuauito (kenapa kalian sudah lupa sama saya)?” ujar
Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang. “Ahado sisukunonmuna
(Apa yang kalian mau pertanyakan)?” lanjut Kanjeng Ratu Kidul.
“Hamirotuson nanboru namagido tangiansiangho (Kami datang kesini untuk minta doa dari Nyai),” jawab salah seorang yang hadir.
“Asadikontuhata pasupasu dohut rajohi (Biar diberikan Tuhan berkat kepada kami),” kata yang lain.
Tampak
Boru Tumorang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Kepalanya seperti
digelengkan, terkadang mengangguk-angguk. Sesaat kemudian dia berkata,
“Posmaruham,
paubahamuma pangalaho rohamuna (Percayalah. Asalkan kalian berubah
sikap dan tingkah laku menjadi lebih baik, itu pasti akan terjadi).”
Selanjutnya dia berkata lagi,”Asarat martonggo mahita tuoputa (Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Tuhan).”
“Molonang
muba rohamu nalaroma balainna he he mamuse kuti tuinjang (Kalau tidak
berubah sikap dengan baik akan muncul bencana lagi-tsunami)”
“Dangdiadia
dope namasae naosolpu nalaroma muse naung gogosiani (Belum seberapa
bencana yang sudah lalu. Lebih dahsyat bencana yang akan datang lagi.
Kalau kalian tidak percaya kepada Tuhan).”
Nasehat
Kanjeng Ratu Kidul itu tampaknya ditujukan ke semua orang. Sedangkan
kepada anak keturunannya dari suku Batak, Kanjeng Ratu Kidul berkata,
”Posmarohamu
amang paboanhudoi tuhamu pomparanhu dibagasan parnipion (Percayalah.
Semua keturunanku akan saya beritahukan lewat mimpi masing-masing).”
“Posmaroham amang patureon hudo sube popparamme (Percayalah, akan saya bantu dan saya tolong semua keturunannmu ini).
Kanjeng Ratu Kidul juga berpesan kepada semua manusia agar tidak membeda-bedakan suku,
”Pabohamu tumanisiae asa unang mambedahon popparanhisude (Beritahu kepada semua manusia supaya tidak membedakan suku).”
Dialog
dengan roh Kanjeng Ratu Kidul itu berlangsung sekitar setengah jam. Isi
dialog sarat dengan nasehat kepada manusia agar selalu berbuat
kebajikan.
Namun yang pasti, dalam dialog itu juga Kanjeng Ratu Kidul menceritakan sosok asal usul dirinya dan nama aslinya.
Upaya
penelusuran ini membuka wacana baru seputar asal usul Kanjeng Ratu
Kidul. Acara ritual ini pun tidak dimaksudkan untuk membenarkan satu
fihak. Sebagaimana dikatakan Silalahi,
“Kami
tidak bermaksud mengklaim kebenaran pendapat kami,”ujar Silalahi sambil
tersenyum. “Tetapi kami hanya mencoba mengangkat kembali sebuah isu
yang sudah lama berkembang di daerah kami. Kebenarannya boleh saja
diperdebatkan,” lanjutnya.
Benar
apa yang dikatakannya. Sosok gaib Kanjeng Ratu Kidul memang layak
diperdebatkan. Keberadaan maupun asal usulnya bisa darimanapun juga.
Tetapi yang pasti, nasehat-nasehat Kanjeng Ratu Kidul yang diucapkan
melalui medium yang keserupan, seringkali mengingatkan kita untuk selalu
percaya kepada Tuhan.
SEJARAH MINANGKABAU
by FERNANDO SADEWA
Asal-usulnya menurut Tambo Alam Minangkabau
Tiga
anak dari Raja Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung) dari Makadunia
(Macedonia) iaitu Maharajo Alif, Maharajo Japang dan Maharajo Dirajo
berlayar bersama, dan saat dalam perjalanan mereka bertengkar sehingga
mahkota kerajaan jatuh ke dalam laut.
Maharajo Dirajo yang membawa Cati Bilang Pandai –seorang pandai emas- berhasil membuat satu serupa dengan mahkota yang hilang itu. Mahkota itu lalu ia serahkan kepada abang-abangnya, tetapi mereka mengembalikannya kepada Maharajo Dirajo karena ia dianggap yang paling berhak menerima, iaitu karena telah berhasil menemukannya. Mereka adik beradik lalu berpisah. Maharajo Alif meneruskan perjalanan ke Barat dan menjadi Raja di Bizantium, sedang Maharajo Japang ke Timur lalu menjadi menjadi Raja di China dan Jepang (Jepun), manakala Maharajo Dirajo ke Selatan sedang perahunya terkandas di puncak Gunung Merapi saat Banjir Nabi Nuh melanda. Begitu banjir surut, dari puncak gunung Merapi yang diyakini sebagai asal alam Minangkabau turunlah rombongan Maharajo Dirajo dan berkampung disekitarnya. Mulanya wujud Teratak lalu berkembang menjadi Dusun lalu jadi Nagari lalu jadilah Koto dan akhirnya menjadi Luhak. Daerah Minangkabau yang asal adalah disekitar Merapi, Singgalang, Tandikat dan Saga. Semuanya terbagi atas 3 Luhak atau Luhak Nan Tigo. Luhak ini membawahi daerah Rantau. Jadi ada 3 luhak dengan 3 rantau :
Maharajo Dirajo yang membawa Cati Bilang Pandai –seorang pandai emas- berhasil membuat satu serupa dengan mahkota yang hilang itu. Mahkota itu lalu ia serahkan kepada abang-abangnya, tetapi mereka mengembalikannya kepada Maharajo Dirajo karena ia dianggap yang paling berhak menerima, iaitu karena telah berhasil menemukannya. Mereka adik beradik lalu berpisah. Maharajo Alif meneruskan perjalanan ke Barat dan menjadi Raja di Bizantium, sedang Maharajo Japang ke Timur lalu menjadi menjadi Raja di China dan Jepang (Jepun), manakala Maharajo Dirajo ke Selatan sedang perahunya terkandas di puncak Gunung Merapi saat Banjir Nabi Nuh melanda. Begitu banjir surut, dari puncak gunung Merapi yang diyakini sebagai asal alam Minangkabau turunlah rombongan Maharajo Dirajo dan berkampung disekitarnya. Mulanya wujud Teratak lalu berkembang menjadi Dusun lalu jadi Nagari lalu jadilah Koto dan akhirnya menjadi Luhak. Daerah Minangkabau yang asal adalah disekitar Merapi, Singgalang, Tandikat dan Saga. Semuanya terbagi atas 3 Luhak atau Luhak Nan Tigo. Luhak ini membawahi daerah Rantau. Jadi ada 3 luhak dengan 3 rantau :
1.Luhak AGAM berpusat di BUKITTINGGI dengan Rantau PASAMAN
2.Luhak TANAHDATAR berpusat di BATUSANGKAR dengan Rantau SOLOK
3.Luhak LIMAPULUH KOTA berpusat di PAYA KUMBUH dengan Rantau KAMPAR
Batas Alam Minangkabau menurut Tambo :
“Dari Riak nan Badabua, Siluluak Punai Maif,
Sirangkak nan Badangkuang, Buayo Putiah Daguak,
Taratak Aie Hitam, Sikilang Aie Bangih , Hingga Durian Ditakuak Rajo”
“Dari Riak nan Berdebur, Siluluk Punai Maif
Sirangkak nan Berdengkung, Buaya Putih Daguk,
Teratak Air Hitam, Sikilang Air Bangis , Hingga Durian Ditekuk Raja”
Tafsiran
dari ‘Riak nan Berdebur’ adalah daerah Pesisir Pantai Barat iaitu
wilayah dari Padang hingga Bengkulu; sedangkan ‘Teratak Air Hitam’
adalah Rantau Timur sekitar Kampar dan Kuantan (sekarang di Riau). Ini
sesuai penjelasan bahwa selain 3 Luhak dan 3 Rantau diatas yang disebut
‘Darek” atau “Darat”, Minangkabau mempunyai daerah Rantau luar iaitu
Rantau Pesisir Barat dan Rantau Timur dengan wilayah :
1.RANTAU
PESISIR BARAT (Pasisie Barek): Sikilang Air Bangis, Tiku Pariaman,
Padang, Bandar Sepuluh, Air Haji, Inderapura, Kerinci (kini masuk Jambi)
dan Muko-muko (Bengkulu).
2.RANTAU
TIMUR : Daerah hilir sungai-sungai besar Rokan, Siak, Tapung, Kampar
dan Inderagiri (Kuantan), kesemuanya kini masuk di Riau.
Asal-usulnya menurut Sejarawan
Senarai kerajaan di Sumatra yang merupakan cikal-bakal Kerajaan Minangkabau mulai zaman Hindu-Budha Abad 7 adalah : 1.KERAJAAN MALAYU (Melayu Tua) terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari, Jambi). Berdiri sekitar Abad 6 – awal 7 M
2.KERAJAAN SRIWIJAYA TUA terletak di Muara Sabak (kini masuk masuk wilayah Tanjung Jabung, Jambi). Berdiri sekitar tengah Abad 7 – awal 8 M
3.KERAJAAN SRIWIJAYA di Palembang, Sum. Selatan. Akhir abad 7 – 11 M
4.KESULTANAN KUNTU terletak di Kampar, sekitar Abad 14 M
5.KERAJAAN MALAYU (Melayu Muda) atau DHARMASRAYA terletak di Muara Jambi, abad 12-14 M. Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singasari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singasari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347
PAGARUYUNG (1347-1809)
Adityawarman meninggalkan banyak
prasasti –terbanyak bahkan jika dibanding periode Raja-raja Sri Wijaya.
Ia menyebut dirinya sebagai ‘Kanakamedinindra” (Penguasa Tanah Emas).
Dan memang Kerajaan Pagaruyung menguasai perdagangan lada/rempah dan
emas terutama di Rantau Timur dan dijual ke daerah luar melalui pesisir
barat, dimana para pedagang datang dari Aceh Tamil, Gujerat dan Parsi
untuk dijual di pasaran dunia. Secara berangsur-angsur kerajaan
Pagaruyung mulai mundur kira-kira pada abad 15, sehingga peranan daerah
Rantau Pesisir yang berupa kota-kota pelabuhan di pantai barat Sumatra
justru semakin berkembang. Pada saat inilah Aceh yang tengah berada pada
puncaknya masuk sekitar tahun tahun 1640 disertai masuknya ajaran
Islam. Pada akhir abad 16, Pagaruyung sudah tidak utuh lagi, kekuasaan
raja tidak mutlak. Yang Dipertuan Pagaruyung sebagai Raja Alam membahagi kekuasaannya pada 2 Raja yang lain iaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo, dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus. Kesatuan tiga raja disebut “Rajo Nan Tigo Selo”. Sedangkan yang menjalankan kekuasaan Lembaga eksekutif -disebut “Baca Ampek (Empat) Balai”- terdiri 4 Datuk dengan 1 Datuk penguat iaitu :
1.Datuk Bandaharo (Menteri Utama & Keuangan) di Sungai Tarab
2.Tuan Indomo (Menteri Adat) di Suruaso
3.Tuan Makhdum (Menteri Kerajaan Wilayah Rantau) di Sumanik
4.Tuan Kadi (Menteri Agama) di Padang Ganting, diperkuat oleh
5.Tuan Gadang (Menteri Keamanan & Pertahanan) di Batipuh
Semua
berada di Luhak Tanah Datar. Pada abad 17-18, Siak di Rantau Timur mulai
melepaskan diri dan mengembangkan kekuasaannya ke utara hingga ke
Rokan, Panai, Bilah, Asahan dan Tamiang. Hal ini dimungkinkan oleh
kuatnya kerajaan Siak dalam perdagangan dengan Melaka dan Belanda,
disamping mulai merosotnya Aceh sesudah Sultan Iskandar Muda mangkat di
tahun 1639.
Perluasan
daerah rantau kemudian menyeberangi Selat Melaka sehingga jadilah
Negeri Sembilan di Semenanjung. Rantau Pesisir Barat yang telah dikuasai
Aceh tidak lagi setia kepada Pagaruyung dimana gerakan pemurnian Islam
berpusat di Bonjol kelak akan muncul. Rantau Daerah Timur bagaimanapun
masih tetap patuh dan setia. Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung pergi
ke rantau-rantau ini untuk mengumpul upeti (ufti) 3 kali setahun. Ini
berlangsung sampai dengan kebangkitan pemurnian Islam yang memecah
Minang menjadi 2 iaitu Kaum Putih/Paderi (Pemurnian Islam) dan Kaum
Hitam (Adat), mereka terlibat pertempuran dalam Perang Paderi. 2 Luhak
iaitu Agam dan Limapuluh Kota telah tunduk kepada Kaum Putih, tetapi
Luhak Tanah Datar bertahan hingga dihancurkan oleh pasukan Paderi dari
Tuanku Lelo pada tahun 1809. Munculnya Belanda ke Ranah Minang akhirnya
justru menjadi pemenang atas situasi tadi, setelah Pasukan Paderi yang
menang Perang Paderi melawan Kaum Adat dihancurkan Belanda.
Bagaimana
pun selanjutnya Islam tetap menjadi pedoman Adat Minangkabau, dimana
setiap Adat yang tidak sesuai dengan Syarak (Hukum Islam) akan dibuang.
Sehingga jadilah pedoman berzaman yang berbunyi “Adat Basandi Syarak,
Syarak Basandi Kitabullah”. Adat haruslah bersendi atau tunduk kepada
Hukum Allah.
Subscribe to:
Comments (Atom)
